English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Rabu, 09 Maret 2011

Inilah Indonesia, saudara-saudara.... (Part. 1 )

Sekedar pemberitahuan, tulisan ini dibikin untuk tujuan “berteriak sekencang-kencangnya” buat aku. Karena, eh, karena di alam nyata kadang-kadang aku nggak bisa mengekspresikan apa yang ada di otak dan hatiku sepenuhnya. Maka dari itu janganlah dibawa heran jikalau di tulisan-tulisanku sering ditemukan berbagai jenis kosakata pisuhan (makian). Selain daripada itu, apabila diketemukan pendapat-pendapat atas peristiwa yang sedang ngepop di masyarakat, ataupun pernah ngepop, ataupun belum ngepop, semuanya itu hanyalah pandanganku belaka. Jangan langsung dipercaya keakuratan data-datanya! Jangan! Sekali lagi, jangan! Semuanya yang ada di sini amat sangat subyektif kalau dilihat dari cara penulisannya. Semua dibuat oleh dan khas Mikaela. Semuanya hanyalah pemikiran dangkal seorang Fanny Wiriaatmadja.



Seperti yang aku alami pada hari Kamis kemarin...entah aku yang terlalu sensitif atau memang aparat negara sudah semakin “brengsek”.



Kamis kemarin itu aku ikut Mas Anton sidang di PN Jakarta Pusat, baru 5 menit menginjakan kaki di PN Jakarta Pusat saja sudah ada yang bikin mataku mendelik dan emosiku naik...(hoeeekssss) saat Mas Anton ngurus masalah surat kuasa, dia “memberi” uang Rp. 50.000 kepada Panitera Muda...namanya Agustinus siapa gitu.... eh...si Pak Agustinus itu malah komplain..”Seratus ribu,Pak”.Lha Piye toh....?



Aku jelas nanya dong buat apa Mas Anton kasih duit itu...dan ternyata mas Anton jawab, “Gak tau...uang capek barangkali...sudah begitu tradisinya disini..gak bisa ngelawan “prosedur tak tertulis”..kalau gak gitu nanti kita nggak diperhatikan (get noticed?),bisa-bisa sidangnya paling terakhir..cape..buang-buang waktu.”

Uang cape? Kan udah digaji sama negara? Dari pajak rakyat....yang ngumpulin duit buat bayar pajak itu juga tentu cape...



Memang aparat negara itu manja...HAKIM gak mau repot, biar panitera yang mengatur, alasannya sedang sibuk ini itu ..eh..ternyat lagi asik ongkang-ongkang kaki dan baca koran di ruangannya... :p panitera mengatur jam sidang, ruang sidang berapa, berdasarkan “siapa yang ngasih duit duluan”..dan praktek seperti ini sudah terjadi sejak jaman dahulu kala...mungkin sudah terjadi saat Harifin Tumpa masih jadi hakim junior...dan pengacara sekarang gak bisa ngapa-ngapain karena pengacara yang dulu juga “ngasih”. Jeeezzzz...lingkaran setan yang gak mungkin putus.



Dan saat sidang, ternyata aksi Mas Anton di ruang sidang juga diamati oleh Bambang Wijojanto mantan calon ketua KPK yang terkenal galak dan terkenal saklek kalau urusan korupsi.

Beliau hadir dan mengikuti sidang dimana Mas Anton berjuang mewakili pihak Termohon.



Dan yang lucu...adalah komentar yang keluar dari mulut seorang tokoh "bersih" sekaliber Bambang Wijojanto tentang sidang itu.



Dilihat dari performance, cara bicara, cara berpikir, dan jawaban yang diberikan..harusnya Anton bisa menang,dibandingkan dengan pengacara dari pihak Pemohon, dia sangat menguasai kasus ini. Kalaupun dia kalah nanti, pasti bukan karena skill beracara dan atau penguasaan dia akan materi dari kasus ini, kalau dia kalah itu tentu karena mengalah, atau dipaksa mengalah (oleh Bos-nya yang mungkin sudah punya deal-deal kotor dengan pihak Pemohon), dan yang jelas kalau dalam perkara ini dia kalah tentu dia dikalahkan oleh uang. You can count on it.

Walaaaaahhhh.....................katanya hukum jadi Panglima...?. HIDUPLAH INDONESIA RAYA......! Gleksz....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar