English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Rabu, 09 Maret 2011

Barisan Jagal (yang katanya) Utusan Tuhan

Barang siapa melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah (ingkari) dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman (HR Muslim).



Seyakinnya, buat yang ngaku sebagai seorang Muslim, aku ngerasa bahwa kita semua pasti pernah denger atau baca kalo di dunia ini ada hadist yang seperti di atas itu. Dan buat yang kebetulan bukan Muslim, untuk tambahan informasi dan pengetahuan, aku kasih tau kalo dalam Islam dikenal terdapat sabda Nabi yang seperti itu.



Konon, hadist di atas itu adalah hadist shahih, tidak seperti hadist-hadistannya Didit Komeng, temen nongkrongku dulu.



Jadi kisahnya, aku punya temen nongkrong yang namanya Didit Komeng. Dia hobi banget nagih traktiran kalo ada anak dikost-an yang lagi ulang tahun. Biasanya si Komeng itu selalu mengirim esemes kepada calon korbannya sebagai berikut: “Barang siapa yang sedang berulang tahun maka diwajibkan kepadanya untuk mentraktir teman-temannya (HR Buhsopo dan Bukan Muslim).” Lagi-lagi, untuk tambahan pengetahuan kepada pembaca, Bukhari dan Muslim adalah 2 orang lakon ngetop periwayat hadist dari Nabi yang terkenal kevalidannya. Sedangkan Buhsopo, dalam bahasa Jawa, bisa diartikan sebagai “entah siapa”. Akibat hobi ngawurnya itu, Komeng di kalangan anak-anak kost-ku dijuluki sebagai “The Prophet” alias sang nabi.





Kembali kepada hadist shahih di atas. Ceritanya sekarang ini aku lagi terganggu sama kata-kata “tangan” di hadist itu. Aku sendiri setelah melalui perenungan 7 hari 7 malam sambil tetap menyelesaikan buku “Catatan Hukum Karni Ilyas” akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa “tangan” yang dimaksud dalam hadist di atas pastinya bukan tangan yang sebenarnya. Tangan yang dimaksud adalah sebuah kiasan kontekstual yang dapat diartikan sebagai “tindakan”, seperti biasanya kalo aku lagi nggaya yang suka berujar, “Sini, biar kutangani aja. Dan meskipun aku sendiri sebenarnya sudah tidak layak untuk heran, aku tetap saja nekat memutuskan untuk heran ketika tahu bahwa di luar sana masih banyak pihak-pihak ekstrimis anarkhis yang menerjemahkan kata “tangan” itu sebagai tangan yang sebenarnya, yang merupakan bagian tubuh manusia.



Dengan penerjemahan versi mereka itu, mereka merasa bisa bebas berlagak menumpas segala bentuk kemaksiatan di muka bumi dengan brutal.Kalo ada yang mereka anggap "menistakan agama", kalo ada sekelompok pemuda yang kedapatan, misalnya, lagi mabuk-mabukan, main-main di tempat pelacuran, mereka merasa tangan mereka wajiblah digunakan untuk mengayunkan pentung kepada para terdakwa tersebut. Dalihnya biasanya, “Salahnya mereka. Sudah dinasehati masih aja ngeyel. Kalo nggak dihajar mereka nggak bakalan kapok.”



Huaduh, tobaaat…



Aku ngerasa miris. Apa nggak ada tindakan lain yang lebih bijaksana ketimbang dolanan stick baseball ala Jaian itu? Apa iya kalo ngeyel berarti pentung?



Selain aku curiga kalo mereka-mereka yang ekstrim nggak pernah tahu bahwa ada kata-kata “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” dan “tidak ada paksaan dalam beragama”, aku juga merasa kalo tindakan barbar mereka itu cuma bakal membuat orang yang dipentungi semakin antipati terhadap ajaran Islam.



Okelah mereka yang maksiat itu pada kapok. Tapi kapok apa? Menurutku mereka cuma bakal kapok kalo ketemu kaum ekstrimis itu. Mereka memang iya bakal nyingkir…selama masih ada yang rela nggebukin mereka. Tapi begitu yang nggebukin sudah nggak ada bukan nggak mungkin mereka bakal kembali ke jalan awal mereka lagi, ya tho? Kasarannya, dalam waktu dekat mereka cuma bakal pindah tempat nongkrong yang jauh dari patroli para barbar itu dan kembali melanjutkan hobi mereka.



Aksi kekerasan cuma bakal mengundang kekerasan berikutnya, Bos. Yang aku tahu (dan juga orang lain pada umumnya), aku sendiri kalo disikat duluan sama orang pasti bakal spontan berusaha membalas. Tidak cukup dengan tindakan setimpal, kalo aku dipukul, selain balas memukul, aku bakal menambahkan bonus tendangan, sikutan, cakaran, cekikan, dan bantingan kepada manusia yang nekat nyari gara-gara sama aku itu (dengan catatan kalo musuhku tidak memiliki postur yang jauh lebih besar daripada aku. Kalo lebih besar, ya aku lebih memilih untuk kabur dan kemudian merencanakan suatu pembalasan dengan karakter coming from behind . Jacky Chen mode "ON".



Aku juga khawatir kalo aksi brutal tersebut pada akhirnya menimbulkan efek ketergantungan. Niatan awal untuk memberantas maksiat perlahan-lahan berubah menjadi suatu ketagihan. Misalnya aja ada seorang oknum kaum ekstrimis yang setiap Sabtu malam terbiasa beraksi sebagai seorang dark-knight. Suatu Jumat boleh jadi dalam hatinya dia berpikir, “Siapa lagi ya yang besok harus kugebukin?”. Artinya, di alam bawah sadarnya dia berharap kalo besok Sabtu dia harus kembali makan korban, dan bukannya berharap semoga tidak ada lagi yang melakukan hal maksiat yang menyebabkan dia harus mengayunkan stick baseball-nya. Parah…



Dialog persuasif kupikir bakal lebih efektif. Kalo misalnya pada saat itu yang dinasehatin lagi ngeyel, bukan berarti saat itu juga dia harus dibantai di tempat. Nabi sendiri tidak lantas memenggal Ikrimah bin Abu Jahal di medan perang, kan? Justru karena kesabaran Nabi pada akhirnya Ikrimah rela mengikuti Nabi, setidaknya itu yang aku tahu.



Nasehat pelan-pelan bakal lebih berguna dan membekas, Bos... Bukannya kelembutan melahirkan kerelaan, dan kekerasan melahirkan keterpaksaan? Apa gunanya aku bisa mendapatkan tubuhnya Antonio Banderas via kekerasan tapi tidak bisa mendapatkan hatinya? Kalo memeluk suatu agama aja tidak boleh berlandaskan paksaan, tentunya menjalankan ajaran agamanya adalah suatu hal yang lebih tidak boleh dipaksa, kan?



Analoginya, ketika main video-game kita tidak dipaksa untuk memilih judul video game apa yang harus kita mainkan. Ketika memilih judulnya aja nggak dipaksa, apa bisa dibenarkan ketika kemudian ada paksaan untuk menamatkan isi video-game itu? Kalo yang level 1 aja tidak harus diselesaikan, lebih-lebih yang level 2-nya, tho?



Aku mengartikan “tangan” itu sebagai “tindakan”. Dan tindakan itu bisa diaksikan dengan cara yang putih, bisa juga yang hitam, bisa juga antaranya, tergantung mana yang lebih efektif dan efisien. Tapi dalam konteks sekarang ini, menurut pertimbanganku berdasarkan faktor psikologis, tindakan ala barbar bukanlah sebuah solusi yang efektif untuk jangka panjang. Yang jelas, kata “tangan” tidaklah pernah kuartikan sebagai ketika aku melihat seseorang yang sedang mabuk-mabukan, tangan kananku harus kugunakan untuk merebut botol vodka dari tangan orang itu dan kemudian kugunakan untuk mementung kepalanya. Yeah, siapa tahu aja yang kutemui kebetulan sedang minum cognag, bukan vodka :)



Aku ingat sebuah cerita tentang seorang alim yang sedang jalan-jalan dengan santri-santrinya. Ketika sampai di pinggir kali, seorang santri melihat sebuah perahu yang sedang ditumpangi oleh segerombolan tukang maksiat. Demi melihat hal, si santri langsung berujar ke sang orang alim tersebut, “Bos, doamu, kan, mujarab. Mbok situ berdoa supaya perahu itu tenggelam. Jadinya biar para tukang maksiat itu mampus dan nggak bakalan bisa maksiat lagi di dunia.”



Tapi bukannya berdoa sesuai permohonan si santri, sang orang alim malah berdoa supaya semua orang yang ada di perahu besok pada masuk surga. Kontan si santri protes. “Bos, ente sarap, ya? Orang-orang model kayak mereka, kok, malah didoain pada masuk surga?” demo si santri.



“Ngene yo, Le… Kalo aku ndoain mereka masuk surga, ya itu berarti aku ndoain supaya mereka berubah jadi orang baik. Kowe lak yo wis ngerti, tho, syaratnya masuk surga itu apa?” jawab sang orang alim. Alhasil si santri cuma bisa mingkem.



Astaga, aku (pura-puranya) terharu. Aku sendiri belum bisa bertindak semulia itu. Tapi seandainya para kaum barbar yang mengaku berusaha menegakkan ajaran Tuhan di dunia itu bisa mengambil sedikit hikmah dari cerita di atas, aku yakin antipati dunia terhadap Islam yang dicap sebagai agama kekerasan bakal berkurang dan boleh jadi nggak bakal ada lagi karikatur bergambar Nabi Muhammad yang lagi nenteng-nenteng bom.



Masih ingat film “FITNA”nya Greet Wilder (salah nggak ya aku nulis namanya?)? . Setelah baca-baca literatur dari berbagai sumber, aku jadi tau kalo film itu – konon katanya – menggambarkan Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan, penebar kebencian, pecinta darah dari berbagai golongan (entah itu golongan darah A, B, AB, atau juga O). Tentu saja hal macam gituan bikin panas orang-orang Islam. Yang agak pinter masih bisa bereaksi nenang-nenangin diri sambil berusaha cuek. Tapi yang goblok – dan ini celakanya. Masih banyak orang Islam yang goblok di Indonesia – langsung bereaksi spontan kepengen membalas perbuatan itu dengan cara seperti yang dituduhkan di film itu. Idiot!!!



Eee… “Fitna” itu adalah salah satu contoh dakwaan terhadap islam sebagai pelaku kekerasan, lha, kok sekarang malah pengen nunjukin kalo apa yang dituduhkan itu ternyata benar? Dasar bego! Orang itu otaknya di dengkul sebelah kiri atau sebelah kanan, ya?



Ini, kan, sama aja kayak kalo misalnya ada yang memaki aku, “Fan, kampret kowe! Jadi manusia, kok, bisanya cuma misuh aja? Mulut nggak ditata! Mau jadi apa kamu nanti ?!”



Maka aku pun menjawab, “Heh! Laknat kowe! Berani-beraninya kamu ngomong kayak gitu, dasar anak haram! Apa buktinya, babi?! Ngomong itu dipikir dulu, kadal bercula! Mbahmu salto, berani-beraninya bilang aku suka misuh. Dasar anak lonte, nenekmu perek, adikmu sundal, bapakmu germo! Anjing sampeyan! Biawak! Telek kecoak! Bunglon bunting! Muka kayak gorila beraninya nuduh aku yang bukan-bukan. Dasar kuda nil, monyet sinting, komodo, dinosaurus, masthodon, pterodactyl, triceratops, harimau sabretooth, tyranosaurus-rex!!!”



Lha, baca, nggak? Aku lagi dituduh suka misuh. Dan demi membela harga diri ternyata aku malah misuh. Justru menunjukkan sebuah kebenaran dari apa yang tadinya hendak kita sangkal. Apa nggak goblok kuadrat itu namanya? Untunglah aku nggak segoblok itu. Alhamdulillah…



Ada oknum ekstremis yang mau mencap aku sebagai manusia goblok? Silakan aja, aku sudah biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar