English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Minggu, 20 Februari 2011

Polwan Tukang Bergunjing


Baru aja berniat membersihkan kepala dari kata-kata makian yang ditujukan buat para Polisi..eh...dah ada lagi pemicu yang bikin aku naik darah.

Kejadiannya baru aja terjadi...



Gini lho...tau kan kalau tadi aku menghabiskan setengah hariku di Museum Polri, niatnya perasaan baik lho, selain cari data untuk ngelengkapin tulisanku, aku juga ingin "mendekati" mereka secara personal, mungkin selama ini aku benci karena aku tidak "kenal".



Saya anteng-anteng aja di perpustakaan yang bukunya gak lengkap-lengkap amat, nyantai juga ngobrol sama ibu polwan yang jadi pustakawati disana, setelah dapet beberapa bahan yang aku cari, sambil nunggu mas Anton yang lagi jum'atan, aku keliling-keliling di Museum-nya, geli ngeliat foto-foto kuno para Mantan Kapolri kita, dengan kumis-kumis yang aduhai gedenya, dan slogan-slogan mereka yang bombastis...he he he he.. aku bilang bombastis karena dari dulu sampai sekarang kualitas Kepolisian kita gitu-gitu aja. Gak jauh-jauh dari DUIT.



Kelar muter-muter, saya jelas laper dan haus, apalagi berlama-lama di perpustakaan yang -entah gak ber-AC atau AC-nya mati-puanassss poool pasti bikin banyak berkeringat, dan karena saya gak mau dehidrasi saya langsung melesat secepat kilat ke kantin Museum.. Errrr.....jus jambu kayaknya enak niiih... Gleksz.



Setelah basah tenggorokan..atau...kerongkongan ya?...whatever lah.. aku duduk manis nunggu mas Anton jemput, sambil kembali buka-buka situs jejaring sosial,yaaaah...barangkali ada penggemar yang harus aku balas sapaannya getoooh...secara aku kan gak mau dibilang sombong.

Di meja depanku ada 3 polwan muda yang sedang ngobrol setelah makan siang, dan seperti layaknya cewek-cewek muda..eh..polwan juga cewek kan? mereka sibuk tebar pesona ke polisi-polisi (yang ini jelas cowok) muda yang duduk di meja sebelah aku, dengan tawa genit, cekikikan, suara dibikin sok imut..dan mata yang dibikin "sok genit" mereka sibuk "beraksi", walaupun kayaknya polisi cowoknya cuek aja tuh...gyahahahahahahha...(kasian deh lw Polwan....!!!!)






Eng...ing...eng....this is the moment everyone...

hold your breath....





Tiba-tiba pembicaraan terhenti, tatapan 3 pasang mata (dari tiga orang Polwan tentu saja) terarah pada satu titik di halaman kantin museum..... Sesosok laki-laki dengan jaket kulit hitam, motor Ninja biru 250 cc...dan ini percakapan mereka :



Polwan A : Wow..ada cowok ih....

Polwan B : Motornya keren...coba kita liat...orangnya keren nggak yaa?

Polwan C : Bentar lagi juga dia buka helm-nya..



Polwan B : Wakakakkakak...buka helm-nya lama banget,jangan-jangan dia mukanya rata.

Polwan A : Paling kayak Sule..

Polwan B : huwahahahahahahhaha...

polwan C : mukanya pasti jerawatan..

Polwan B : brewokan...

Polwan A : bauuu

Polwan B : huwahahahahahahaha

polwan C : Tuh orangnya buka helm



AKU : HEY ...POLWAN-POLWAN GATEL...!!!! YANG LW OMONGIN DAN LW KETAWAIN ITU LAKI GW....!

DASAR POLWAN ANJING TUKANG RUMPI...! PEREMPUAN GOBLOK GAK BERGUNA..! DAN KALAU KALIAN GAK TERIMA GW KATAIN ANJING..TUNTUT GW....!!!!

Huuuh...pengen rasanya ngegamparin cewek-cewek tolol itu...







*silent moment*



Seluruh kantin mendadak sunyi...bahkan bunyi jarum jatuhpun pasti terdengar....

Semua yang makan siang di Kantin itu polisi,tua-muda,laki perempuan...semua diam..



Jelas aku marah..enak aja ngetawain laki gw...aku lagi jatuh cinta tigaperempat modyaaar sama dia, memujanya di setiap helaan nafas, mencintainya sampai ke setiap sumsum tulangku, mendo'akannya di setiap denyut jantungku.....

Tiba-tiba aku denger dia dirumpiin polwan-polwan goblok... TIDAK BISAAAAAAAA.... (Sule Mode "ON*)



Lalu....segelas juice jambu tidak lagi mampu mendinginkan tubuhku, karena hatiku terbakar....

Grrrrrhhhhhhh.....





Jadi..buat para pembaca yang terhormat yang sengaja atau tidak , suka dan hobby ngerumpiin atau ngomongin orang (yang tentu saja dianggap gak akan denger rumpian kalian), berhati-hati...karena mungkin aja orang yang menyayangi dan memiliki hati orang itu ada deket kalian.... jangan seperti polwan-polwan itu...wooof....wooof....

Kamis, 18 November 2010

Beranikah Indonesia?

Kekerasan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terjadi lagi. Sumiati binti Salan Mustapa, yang bekerja pada sebuah keluarga di Madinah, mengalami luka bekas gunting di bagian mulutnya. Kini, dia mendapat perawatan khusus di Rumah Sakit Madina setelah mengalami rangkaian kekerasan oleh majikannya.

Majikan harus diproses hukum dan dihukum berat, tindaklanjut itu tidak bisa diserahkan pada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia yang memfasilitasi keberangkatan Sumiati.

Kita harus meminta semua pihak terkait menindaklanjuti serius kerjasama BNP2TKI, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Luar Negeri, dengan dipimpin kepala negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Harus ada pernyataan politik kepala negara, sebagaimana Filipina, ketika ada korban, pemimpin tertinggi bereaksi,"
�Presiden harus maju membela warga negaranya yang terancam sebagai pemenuhan amanat konstitusi untuk melindungi warga negara. "Menyangkut hak asasi warga negara, kepala negara harus melakukan lobi politik. Majikan harus ada proses hukum."

Presiden, pernah merespons bagus dalam kasus Siti Hajar, TKI yang mengalami penyiksaan bertahun-tahun di Malaysia.

Menurut dia, Presiden harus mendesak pemerintah Arab Saudi menyelesaikan masalah tersebut. Kalau tidak didesak ada kecenderungan Arab melindungi warga negaranya.
Harus ada desakan konkret, kepala negara ada respons. Ini otomatis harus dilakukan jangan berhenti pada momen politik tertentu.
Setelah itu, pemerintah juga harus mendampingi Sumiati hingga proses hukum selesai. Sebab, selama ini pemerintah hanya fokus pada pemulangan korban ke tanah air. "Pendampingan hukumnya harus sampai proses hukum selesai, agar ada efek jera bagi pelaku dan tidak terulang, agar jangan terjadi kasus serupa di masa datang,"�

Kepolisian di Madinah, Arab Saudi, belum menahan majikan yang diduga telah menyiksa pembantunya asal Indonesia. Padahal laporan atas tindak kejahatan itu sudah dilayangkan ke polisi sejak lebih dari seminggu.

Demikian ungkap seorang staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi, seperti yang dikutip oleh laman media Arab News, Kamis 18 November 2010. Didi Wahyudi, kepala gugus tugas layanan dan perlindungan WNI dari KJRI Jeddah mengatakan bahwa polisi setempat belum mengambil tindakan atas penganiaya Sumiati binti Salan Mustapa.

"Kepolisian Madinah sampai sejauh ini belum menahan majikan asal Saudi, meski laporan sudah dilayangan ke kantor polisi Faisaliah pada 10 November lalu," kaya Wahyudi seperti dikutip Arab News.

Sumiati sejak 8 November lalu tengah dirawat di Rumah Sakit King Fahd di Madinah. Perempuan berusia 23 tahun itu harus menjalani tindakan khusus, termasuk operasi atas sejumlah organ tubuh yang sudah rusak karena diduga dianiaya oleh majikannya.

Wahyudi mengungkapkan kepada media Saudi itu bahwa berita penganiayaan yang diderita Sumiati telah mendapat perhatian besar dari media massa di Indonesia. "Presiden Yudhoyono sendiri telah menginstruksikan Kementrian Luar Negeri Indonesia untuk menangani masalah ini secara serius dan mengirim misi diplomatik, termasuk pejabat kesehatan, ke Madinah," kata Wahyudi.

Dia menilai polisi setempat tampaknya tidak mau segera bertindak hingga usai libur Idul Adha. "Saya ingin hukum segera ditegakkan," kata Wahyudi.

Setiap tahun, lebih dari 80.000 pembantu rumah tangga asal Indonesia datang ke Arab Saudi untuk bekerja. Kini, sekitar satu juta warga Indonesia bekerja di Saudi, tiga perempat di antara mereka adalah perempuan.

Kementerian Luar Negeri akan membantu keluarga Sumiati untuk datang ke Arab Saudi agar dapat memberikan dukungan moril terhadap Sumiati, yang telah mendapat perlakukan sadis dari majikannya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Gumelar, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, dan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Setianingsih, akan bertolak ke Arab Saudi untuk menangani masalah itu.

Penanganan TKI bermasalah menjadi agenda pembahasan utama dalam Rapat Koordinasi yang digelar bersama Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

"Koordinasi rutin ini penting untuk terus memonitor TKI Bermasalah. BNP2TKI akan mengambil peran lebih besar dalam perlindungan TKI. Kita tidak ingin terus-menerus mengulang kasus-kasus seperti Saudari Winfaida," ujar Menakertrans Muhaimin Iskandar dalam keterangannya di Jakarta, Senin 27 September 2010.

Penanganan kasus TKI Bermasalah terus menjadi sorotan akhir-akhir ini setelah ada beberapa kasus kekerasan yang menimpa TKI di luar negeri. Rakor juga menyoroti secara khusus deportasi TKI tak berdokumen dari Malaysia yang terjadi setiap minggu.

"Koordinasi terpadu akan kami jalankan untuk menangani dan mengatasi TKI Bermasalah. Khusus mengenai TKI tak berdokumen, kita sedang mempertimbangkan kebijakan redokumentasi," tambah pria yang kerap disapa Cak Imin ini.

Selain itu, rakor juga mencermati pembenahan sistem penempatan dan perlindungan TKI. BNP2TKI yang memiliki tanggungjawab ini menjelaskan bahwa sistem yang sudah ada akan disempurnakan.

"Kita sudah memiliki contoh layanan satu atap di NTB yang berjalan dengan baik. Kita akan menerapkannya di daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara. Dengan sistem seperti itu, TKI Bermasalah akan dapat ditekan," kata Kepala BNP2TKI Mohammad Jumhur Hidayat.

Senin, 19 Juli 2010

Kartini bukan pejuang emansipasi

Tangal 21 April bagi wanita Indonesia adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi, sayangnya peringatan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini (misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak, dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan).

Suara emansipasi pun terasa lebih kuat pada bulan April karena Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita. Terlepas dari keterlibatan RA Kartini sebagai pejuang dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia emansipasi sebenarnya diilhami dari gerakan feminisme di Barat. Pada abad ke-19 muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women's Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita). Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak serta menghendaki adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan.

Pada tahun 1960 isu feminisme berkembang di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik (rumah tangga) merupakan hal yang tidak produktif. Kemunculan isu ini karena diilhami oleh buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystique (1963). Freidan mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Ide virus peradaban ini kemudian terus menginfeksi tubuh masyarakat dan 'getol' diperjuangkan oleh orang-orang feminis.

Dalam perjuangannya orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Hal ini dilakukan baik secara terang-terangan maupun 'malu-malu'. Tuduhan-tuduhan 'miring' yang sering dilontarkan antara lain peran domestik perempuan yang menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dianggap sebagai peran rendahan. Busana muslimah yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat dengan memakai jilbab (QS Al-Ahzab: 59) dan kerudung (QS An-Nur: 31) dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan.

Lalu benarkah RA Kartini dalam sejarahnya merupakan pahlawan emansipasi sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis?

Andai Kartini Masih Hidup

Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, RA Kartini saat itu menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki. Tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu yaitu mengubah masyarakat. Khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan. Juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 yang isinya,

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."

Menurut Kartini ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam. Pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak pada komentar kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:

"Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?".

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya memuat, "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai."

Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban. Bahkan ia sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, "Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?"

Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al Quran melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), " ... mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS Al Baqarah [2]: 257)," yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya. Di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam. Bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis.

Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan, dan kesetaraan jender.

Refleksi perjuangan Kartini saat ini sangat disayangkan karena banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita. Agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita.

Tanpa disadari wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan feminisme dengan membawa ide-ide sistem kapitalisme yang pada akhirnya merendahkan, menghinakan derajat wanita itu sendiri. Sebagai contoh tidak sedikit perempuan lebih rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya. Ribuan kasus kekerasan terhadap mereka terjadi.

Mereka disiksa oleh majikan hingga pulang dalam keadaan cacat badan. Bahkan, di antaranya ada yang akhirnya menemui ajal di negeri orang. Sebagaimana yang dialami derita seorang TKW asal Palu, Susanti (24 tahun), yang kini tak bisa lagi berjalan karena disiksa majikannya. Sementara itu di Kabupaten Cianjur Jawa Barat kasus trafficking dan KDRT tercatat 548 kasus. Tidak sedikit dari mereka menjadi korban dan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Fakta-fakta tersebut setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa sistem kapitalisme telah gagal dalam memuliakan wanita. Karena itu upaya meneladani perjuangkan Kartini seharusnya bukanlah kembali pada ide-ide feminis dengan membawa ide kapitalisme yang absurd melainkan kembali pada sistem syariah Islam yang dalam rentang masa kepemimpinannya selama 13 Abad mampu memposisikan wanita pada kedudukannya yang teramat mulia. Maka wajar bila desas desus diskriminasi perempuan ketika diterapkan syariah Islam secara kaffah tidak pernah terdengar.

Sekarang sudah saatnya baik laki-laki dan perempuan berjuang untuk menerapkan sistem syariah Islam secara kaffah sebagai wujud ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena hanya dengan sistem syariah Islam saja wanita dimuliakan. Karena itu saatnya habis gelap terbitlah Islam dengan syariah dan khilafah.

Masquarade.Cover Up


Apa sih yang selalu kita sebut "normal" itu?


I love you